Pengaruh Mantiq (Logika) Dalam Pengembangan Ilmu-Ilmu Keislaman
Pengaruh Mantiq (Logika) Dalam Pengembangan Ilmu-Ilmu Keislaman
Pengaruh Mantiq (Logika) Dalam Pengembangan Ilmu-Ilmu Keislaman
Edwin Syarif
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
edwinsyarif@uinjkt.ac.id
Abstract: In the golden age of Islamic civilization, science was well developed. The
developed sciences are not only Islamic sciences which are the study of Al-Qur'an and
Hadith texts, but also other sciences including: Astronomy, al-Jabar, Chemistry, Physics.
Especially in the Islamic sciences, the influence of the use of Mantiq is quite large, so that
it has produced many qualified scientists and works. This fact, of course, cannot be
separated from the persistence of the scholars in giving spirit to the teachings of Islam itself,
so that nothing escapes their discussion. Several verses are classified into one type, although
trying to be scattered everywhere to be organized into one field of science. The legal verses
are grouped into one and then arranged systematically, which then becomes ushul fiqh and
fiqh. If traced further, the steps taken in the development of Islamic sciences will be found
that Islamic philosophy has a significant role in the beginning of Islamic sciences, especially
mantiq. Mantiq or by another name Logic since its appearance in Greece has experienced
great development and influence in human life. Logic itself has developed from traditional
logic to symbolic logic. This development is in line with changes in human thinking. Logic
is influential in shaping a science. The study of the influence of Mantiq on the development
of Islamic sciences is a necessity so that it can be an evaluation of the development of Islamic
scholarship in the future. Mantiq, which is the form and rules of rational thinking, is
identical to the modern way of thinking. Therefore, by looking at the influence of Mantiq
on Islamic sciences in the past, we will be able to ask the question whether Mantiq science
with the principles of thinking in the past is still relevant to current scientific developments.
There are four Mantiq principles used in this study, namely: Syllogism, Deductive,
Inductive and Analogy / Qiyas. These four principles are used in analyzing Islamic sciences
in general, namely: Tafsir, Ushul Fiqh, and Kalam. The results of the analysis become
input for the development of Islamic sciences in general.
Abstrak: Pada masa keemasan peradaban Islam, ilmu pengetahuan berkembang dengan
baik. Ilmu-ilmu yang dikembangkan tidak hanya ilmu-ilmu keislaman yang merupakan
kajian teks-teks Al-Qur'an dan Hadits, tetapi juga ilmu-ilmu lain yang meliputi:
Astronomi, al-Jabar, Kimia, Fisika. khususnya dalam ilmu-ilmu keislaman, pengaruh
penggunaan Mantiq cukup besar, sehingga melahirkan banyak ilmuwan dan karya yang
berkualitas. Fakta ini tentu saja tidak lepas dari kegigihan para ulama dalam
memberikan semangat pada ajaran Islam itu sendiri, sehingga tidak ada yang luput dari
pembahasan mereka. Beberapa ayat digolongkan menjadi satu jenis, meskipun berusaha
disebarkan dimana-mana untuk diorganisasikan ke dalam satu bidang ilmu. Ayat-ayat
hukum tersebut dikelompokkan menjadi satu dan kemudian disusun secara sistematis,
yang kemudian menjadi ushul fiqh dan fiqh. Jika dirunut lebih jauh, langkah-langkah
yang diambil dalam pengembangan ilmu-ilmu keislaman akan ditemukan bahwa filsafat
Islam mempunyai peran yang cukup signifikan dalam permulaan ilmu-ilmu keislaman
khususnya mantiq. Mantiq atau dengan nama lain logika sejak kemunculannya di Yunani
telah mengalami perkembangan dan pengaruh yang besar dalam kehidupan manusia.
Logika sendiri telah berkembang dari logika tradisional menjadi logika simbolik.
Perkembangan ini sejalan dengan perubahan pola pikir manusia. Kajian pengaruh
mantiq terhadap perkembangan ilmu-ilmu keislaman merupakan suatu keharusan agar
dapat menjadi bahan evaluasi perkembangan keilmuan Islam ke depan. Mantiq yang
merupakan bentuk dan aturan berpikir rasional identik dengan cara berpikir modern.
Oleh karena itu, dengan melihat pengaruh Mantiq terhadap ilmu-ilmu keislaman di masa
lampau, kita akan bertanya apakah ilmu Mantiq masih relevan dengan perkembangan
keilmuan saat ini. Ada empat prinsip Mantiq yang digunakan dalam penelitian ini,
yaitu: Silogisme, Deduktif, Induktif dan Analogi / Qiyas. Empat prinsip inilah yang
digunakan dalam menganalisis ilmu-ilmu Islam secara umum, yaitu: Tafsir, Ushul Fiqh,
dan Kalam. Hasil analisis tersebut menjadi masukan bagi pengembangan ilmu-ilmu keislaman
secara umum, terutama kekuatan dan kelemahannya bagi pengembangan.
Pendahuluan
Sikap keterbukaan para ulama Islam awal terhadap pemikiran yang
positif dari luar Islam sangat mendorong kemajuan di berbagai bidang ilmu.
Ilmu yang berkembang tidak saja pada hal-hal yang terkait dengan kehidupan
orang banyak, tetapi juga ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad
SAW berkembang menjadi beberapa cabang ilmu, yang ilmu itu ketika Nabi
hidup tidak terbayangkan. Bahkan untuk zaman sekarang cabang itu menjadi
lebih sistematis lagi dengan didirikan universitas, fakultas, dan program studi
yang khusus mempelajari ilmu-ilmu tersebut. Jika diandaikan Nabi hidup
sekarang, beliau akan heran sekali kenapa ajaran yang begitu sederhana menjadi
Ilmu Ushuluddin | Volume 5, Nomor 2, Juli 2016 267
sangat complicated setelah berjalan sekian ratus tahun. Akan semakin heran
lagi untuk mempelajari ajaran tersebut harus membayar dengan jumlah yang
tidak sedikit. Gedung untuk mempelajari ajaran beliau sangat megah dan
mewah, menjulang tinggi di tengah kota dengan arsitektur yang indah sekali.
Kenyataan ini tentu saja tidak dapat dilepaskan dari kegigihan para
ulama memberi spirit pada ajaran Islam itu sendiri, sehingga tidak ada yang
luput dari pembahasan mereka. Beberapa ayat diklasifikasikan menjadi satu
jenis, kendati berserakan di mana-mana diusahakan untuk disusun menjadi
satu bidang ilmu. Ayat-ayat hukum dikelompokkan menjadi satu kemudian
disusun secara sistematis, yang kemudian menjadi ilmu ushul fiqh dan fikih.
Langkah yang dilakukan dalam pengembangan ilmu-ilmu keislaman bila
dilacak lebih lanjut maka akan didapatkan bahwa Mantiq memiliki peran
yang cukup signifikan dalam melahirkan ilmu-ilmu keislaman.
terjadi interaksi atas mereka mengenai beberapa hal sampai pada masalah yang
mendasar (I’tiqād). Kedua, kelompok Muslim menerima ilmu dari kelompok
Yunani walaupun mereka tidak menerima ajaran itu sepenuhnya. Ketiga,
dapat dikatakan bahwa adanya kebutuhan diantara kaum muslimin dalam
mengkaji tentang ketuhanan.
Ilmu-ilmu Keislaman
Pada masa Islam, perkembangan ilmu di dunia Islam masa klasik ditandai
dengan kemunculan perpustakaan-perpustakaan di wilayah Islam. Perpustakaan
Abbasiyah di Bagdad dinamakan dengan ”Bait al-Hikmah” yang didirikan
oleh Khilafah al-Makmun (813-833M), yang telah dimulai oleh ayahnya
Harun al-Rasyid (789-809M). Peran utama perpustakaan Bait al-Ḥikmah
adalah menyimpan terjemahan ilmu-ilmu Yunani. Para pembesar Spanyol
yang menjadi penerus Bani Umayyah pada tahun 1031 menjadi terkenal
dengan perpustakaan-perpustakaan mereka di Saragossa, Granada, Toledo
dan di tempat-tempat lain. Di Mesir, para wazir pun mempunyai perpustakaan-
perpustakaan yang besar, Wazir Khalifah Fathimiyyah al-Aziz, pernah mengeluarkan
uang sebesar seribu dinar per bulan untuk membayar para ilmuwan, sekretaris
dan penjilid buku.
Mengikuti tradisi para multidisipliner Yunani, ilmuwan-ilmuwan di
dunia Islam juga melakukan kajian di semua bidang pengetahuan. Penafsiran
atas pernyataan al-Qur’an untuk menyelidiki jagat raya terus mendorong
penelitian mereka. Setelah menyerap karya-karya terjemahan yang berasal dari
dunia Yunani dan Persia, ilmuwan-ilmuwan muslim melakukan kajian secara
bebas. Motivasi kaum muslim melakukan gerakan intelektual di berbagai
negara seperti Mesir, Syria, Irak dan Iran serta negara-negara lainnya tidak lain
untuk kesuksesan kekuasaan dan pengembangan pengetahuan.2
2 Deduktif Proses berpikir dari umum ke khusus yaitu proses memahami ayat-
ayat al-Qur’an untuk mendapatkan makna yang sama sehingga dapat
digeneralisasikan seperti dalam metode mawḍū’ī atau tematik.
3 Induktif Proses berpikir dari khusus ke umum seperti metode ijmalī yaitu
cara penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an dengan menghimpun
beberapa ayat sesuai dengan urut-urutan mushaf atau satu surat
dan kemudian ditafsirkan pokok-pokok kandungan ayat-ayat yang
dihimpun atau satu surat tersebut secara umum atau global
4 Analogi/Qiyas Proses mencari unsur-unsur yang sama antara satu ayat dengan
ayat lain seperti proses yang terjadi pada metode tahlīlī bahwa
penafsiran dimulai dengan mengungkapkan arti kosa kata,
menjelaskan arti secara global, setelah itu diungkapkan dan
diuraikan secara rinci, berdasarkan kesesuaian (munāsabah) antar
ayat-ayatnya dan sebab-sebab turunnya ayat.
Dalam ilmu Ushul Fiqh seperti dalam tabel 2 dapat diketahui bahwa
prinsip silogisme yang merupakan proses penarikan kesimpulan dari premis
mayor dan premis minor. ‘Illah dalam ushul fiqh dapat diposisikan sebagai
premis minor. ‘Illah dimaksud adalah suatu sifat yang nyata dan berlaku setiap
kali suatu peristiwa terjadi, dan sejalan dengan tujuan penetapan hukum dari
suatu peristiwa hukum. Contohnya, Al-Qur’an memerintahkan berbuat baik
kepada kedua orang tua dan jangan mengatakan “ah” kepada keduanya.
Larangan tersebut secara nyata mengandung arti ‘illah larangan menyakiti
keduanya. Hukum memukul orang tua diqiyaskan kepada larangan tersebut
karena adanya kesamaan ‘illah yaitu sama-sama menyakiti. Prinsip deduktif
yaitu proses pengistinbatan hukum dari nash-nash yang telah ada dalam al-
Qur’an seperti diharamkannya makan daging babi.
Proses pengistinbatan hukum dari nash-nash yang ada kemudian dijadikan
kaidah-kaidah ushul Fiqh contoh: al-Ashl baqa makana ‘ala makana kaidah
ini menjelaskan lebih lanjut bahwa asal segala sesuatu tetap maka keharaman
minuman tetap meski dalam bentuknya yang bermacam-macam. Hal ini
adalah bagian dari prinsip induktif.
278 Edwin Syarif | Pengaruh Mantiq (Logika)...
Simpulan
Tradisi berpikir logis yang diwariskan para filsuf muslim dalam bentuk
mantiq/logika telah berperan dalam pembentukan ilmu-ilmu keislaman.
Ilmu-ilmu tersebut di antaranya ilmu Tafsir, Ilmu Kalam, dan Ilmu Ushul
Fiqh, yang kebanyakan diajarkan di pesantren-pesantren dan sekolah-sekolah
Islam di Indonesia. Mantiq memiliki pengaruh dalam pengembangan ilmu-
ilmu keislaman. Pengaruh itu teridentifikasi melalui kaidah-kaidah Mantiq
yang mencakup prinsip silogisme, prinsip metode deduktif, prinsip metode
induktif, serta analogi dan qiyas. Prinsip-prinsip tersebut teridentifikasikan
pada ilmu-ilmu keislaman yang menjadi kajian ini yaitu: Ilmu Tafsir, Ilmu
Ushul Fiqh, dan Ilmu kalam.
Mantiq atau logika sebagai kaidah dalam berpikir pada saat ini masih
relevan, meskipun ada beberapa hal yang harus diperhatikan di antaranya:
pandangan filsafat dan metodologi ilmu pengetahuan yang sudah berkembang
pesat untuk kajian-kajian teks al-Qur’an dan Hadis. Pandangan filsafat yang
berkembang pada saat ini menjadi pertimbangan dan khazanah metodologi
dalam melihat suatu masalah dan memberikan solusi dalam kehidupan
masyarakat. Problem eksistensialis manusia menjadi dasar bahwa bagaimana
memahami teks al-Qur’an dalam rangka memberikan solusi dari masalah yang
dihadapi manusia.
Pustaka Acuan
Badawi, ‘Abd al-Raḥmān (ed), al-Turāth al-Yūnānī fī al-Ḥadhārah al-Islāmiyah,
Kairo: Dār al-Nahdhah al-’Arabiyah, 1965.
Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia, 1996.
Bakar, Osman, Hierarki Ilmu: Membangun Rangka-Pikir Islamisasi Ilmu, terj.
Purwanto, Bandung: Mizan, 1998), h. 61.
C. Verhaak dan R. Haryono Imam, Filsafat Ilmu Pengetahuan Telaah Atas
Cara Kerja Ilmu-ilmu, Jakarta: Gramedia, 1991.
280 Edwin Syarif | Pengaruh Mantiq (Logika)...
Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan, 1995.
Soekadijo, R.G., Logika Dasar: Tradisional, Simbolik, dan Induktif, Jakarta:
Gramedia, 1988.
Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam, New York: Mentor
Books, 1970.
Syed Muhammad NaquibAl-Attas, Islam and the Philosophy of science, Kuala
Lumpur: ISTAC, 1989.
Syuyūthī, al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur`an, Beirut: Dār al-Fikr, tt.
Muḥammad Abū Zahrah, Uṣūl Fiqh, Beirut: Dār al-Fikr al-‘Arabiy, 1958.
W. Poespoprodjo, Logika Sientifika (Pengantar Dialektika dan Ilmu),
Bandung: Remaja Karya, 1985.
Catatan Akhir
1
Hal ini sebagaimana analisa Cak Nur yang berdasarkan catatan Halkin, Nurchalish
Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban (Jakarta:Paramadina, 1996), 221-222.
2
Albert Hourani, A History of The Arab Peoples (Cambrige: The Belkhap Press of
Harvard University Press, 1991), 76.
3
al-Munjid, (Beirut: Dar el Mashreq, 1975), 526.
4
Jamīl Shalībā, al-Mu`jam al-Falsafī (Bairut: Dār al-Kitāb al-Libnani, 1973), vol. II,. 99.
5
I.R. Poedjawiyatna, Tahu dan Pengetahuan: Pengantar Ke Ilmu dan Filsafat (Jakarta:
Bina Aksara, 1983), 24.
6
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan, 1995), 295.
7
The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty, 2004), Cet. Ke-6, 85.
8
Andi Hakim Nasoetion, Pengantar ke Filsafat Sains, (Jakarta: Litera Antar Nusa,
1999), cet. ke-3, 2.
9
Honer, Stanley M., dan Thomas C. Hunt, “Metode Dalam Mencari Pengetahuan:
Rasionalisme, Empirisme dan Metode Keilmuan”, dalam Jujun S. Suriasumantri (ed.), Ilmu
Dalam Perspektif, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001), Cet. Ke-15, 104.
10
Secara garis besar membicarakan sejarah perkembangan logika dapat dibagi menjadi
beberapa peride, yaitu periode logika klasik, logika India, logika China, logika Arab, logika
abad pertengahan Eropa, interegnum (logika antara abad pertengahan dan modern), menginjak
modern, logika modern, pengaruh Kant dan John Stuart Mill dan logika modern saat ini.
Periode tersebut mempunyai tokoh sendiri-sendiri. Contohnya pada logika klasik muncul
tokoh Aristoteles, Zeno, Plato, theophratus dan lain sebagainya. Logika India biasa merujuk
pada buku Nyaya, Mimansa, vaisesika dan lain sebagainya. Logika Cina muncul pada masa
Moist pada abad kelima sebelum Masehi, kemudian berkembang seperti munculnya
pemikiran Hsun tzu (313-238 SM) dan Neo-Taoism. Di Arab muncul al-Farabi, Ibn Sina,
Ibn Taimiyyah dan lain sebagainya. Pada masa abad pertengahan Eropa muncul Peter
282 Edwin Syarif | Pengaruh Mantiq (Logika)...