Teknik Relaksasi Autogenik
Teknik Relaksasi Autogenik
Teknik Relaksasi Autogenik
gelombang alfa () di otak sehingga tercapailah keadaan rileks, peningkatan konsentrasi serta
peningkatan rasa bugar dalam tubuh (Potter & Perry, 2005).
Teknik relaksasi autogenik mengacu pada konsep baru. Selama ini, fungsi-fungsi tubuh
yang spesifik dianggap berjalan secara terpisah dari pikiran yang tertuju pada diri sendiri.
Teknik relaksasi ini membantu individu dalam mengalihkan secara sadar perintah dari diri
individu tersebut. Hal ini dapat membantu melawan efek akibat stress yang berbahaya bagi
tubuh. Teknik relaksasi autogenik memiliki ide dasar yakni untuk mempelajari cara
mengalihkan pikiran berdasarkan anjuran sehingga individu dapat menyingkirkan respon
stres yang mengganggu pikiran (Widyastuti, 2004).
C. Pengaruh Teknik Relaksasi Autogenik Bagi Tubuh
Dalam relaksasi autogenik, hal yang menjadi anjuran pokok adalah penyerahan pada diri
sendiri sehingga memungkinkan berbagai daerah di dalam tubuh (lengan, tangan, tungkai dan
kaki) menjadi hangat dan berat. Sensasi hangat dan berat ini disebabkan oleh peralihan aliran
darah (dari pusat tubuh ke daerah tubuh yang diinginkan), yang bertindak seperti pesan
internal, menyejukkan dan merelaksasikan otot-otot di sekitarnya (Widyastuti, 2004).
Relaksasi autogenik akan membantu tubuh untuk membawa perintah melalui autosugesti
untuk rileks sehingga dapat mengendalikan pernafasan, tekanan darah, denyut jantung serta
suhu tubuh. Imajinasi visual dan mantra-mantra verbal yang membuat tubuh merasa hangat,
berat dan santai merupakan standar latihan relaksasi autogenik (Varvogli, 2011).
Sensasi tenang, ringan dan hangat yang menyebar ke seluruh tubuh merupakan efek yang
bisa dirasakan dari relaksasi autogenik. Tubuh merasakan kehangatan, merupakan akibat dari
arteri perifer yang mengalami vasodilatasi, sedangkan ketegangan otot tubuh yang menurun
mengakibatkan munculnya sensasi ringan. Perubahan - perubahan yang terjadi selama
maupun setelah relaksasi mempengaruhi kerja saraf otonom. Respon emosi dan efek
menenangkan yang ditimbulkan oleh relaksasi ini mengubah fisiologi dominan simpatis
menjadi dominan sistem parasimpatis (Oberg, 2009).
D. Tahapan Kerja Teknik Relaksasi Autogenik
Menurut Widyastuti (2004) dalam Pratiwi (2012), teknik relaksasi autogenic
menggunakan konsep konsentrasi pasif pada daerah tertentu di tubuh tiap individu. Praktisi
teknik relaksasi autogenik mengulangi ungkapan kepada diri sendiri seperti ungkapan
kehangatan, ungkapan lamunan maupun ungkapan pengaktifan. Ungkapan kehangatan yang
dipakai dalam relaksasi ini seperti aku merasa hening, kedua tanganku, lenganku terasa
hangat dan berat. Ungkapan lamunan yang digunakan pada teknik relaksasi ini seperti jauh
di dalam pikiranku, aku merasakan kedamaian dan keheningan yang menenangkan.
Ungkapan pengaktifan yang dapat digunakan dalam relaksasi autogenik seperti aku merasa
kehidupan dan energy mengalir melalui dada, kedua lengan, dan kedua tanganku
Hadibroto (2006) menyatakan latihan-latihan untuk menghadirkan relaksasi pasif di
seluruh bagian tubuh yang dibagi menjadi enam tahap merupakan program teknik relaksasi
autogenik. Enam tahap autogenik terdiri dari yaitu merasa berat diseluruh anggota tubuh,
merasa hangat ditangan dan kaki, menenangkan denyut jantung, mengatur pernafasan,
menghangatkan daerah sekitar jantung, serta mendinginkan dahi. menyatakan Menurut
Hadibroto (2006), Widyastuti (2004) dan Siswantoyo (2008) berikut akan dipaparkan
langkah-langkah dari teknik relaksasi autogenik yaitu :
1) Mengatur posisi tubuh, posisi berbaring maupun bersandar ditempat duduk
merupakan posisi tubuh terbaik saat melakukan teknik relaksasi autogenik. Sebaiknya
individu berbaring di karpet atau di tempat tidur, kedua tangan di samping tubuh,
telapak tangan menghadap ke atas, tungkai lurus sehingga tumit dapat menapak di
permukaan lantai. Bantal yang tipis dapat diletakkan di bawah kepala atau lutut untuk
menyangga, asalkan tubuh tetap nyaman dan posisi tubuh tetap lurus. Apabila posisi
berbaring
tidak
mungkin
untuk
dilakukan,
posisi
dapat
diubah
menjadi
bersandar/duduk tegak pada kursi. Saat duduk jaga agar kepala tetap sejajar dengan
tubuh dan letakkan kedua tangan di pangkuan atau di sandaran kursi. Calon penerima
terapi harus melepaskan jam tangan, cincin, kalung dan perhiasan yang mengikat
lainnya serta longgarkan pakaian yang ketat.
2) Konsentrasi dan kewaspadaan, pernapasan dalam sambil dihitung 1 hingga 7
dilakukan guna meyakinkan. Gerakan ini dilakukan sebanyak 6 kali. Selanjutnya
adalah tarikan dan hembusan napas dengan hitungan 1 hingga 9, yang dilakukan
sebanyak 6 kali. Ketika menghembuskan napas perlu dirasakan kondisi yang semakin
rileks dan seolah-olah tenggelam dalam ketenangan. Latihan ini diulangi 3 kali
sehingga mendapatkan konsentrasi yang lebih baik dengan memfokuskan pikiran
pada pernafasan serta mengabaikan distraktor yang lain. Fokus pada pernafasan
dilakukan dengan cara memfokuskan pandangan pada titik imajiner yang berada pada
2 inci (+ 2,5 cm) dari lubang hidung. Latihan ini mempertahankan kondisi secara
pasif untuk tetap berkonsentrasi dan nafas dihembuskan melewati titik tersebut.
Selama latihan tetap mempertahankan irama nafas untuk tetap tenang, dan selalu