Kti Gabung
Kti Gabung
Kti Gabung
Oleh :
JURUSANGIZI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG
2014
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG
JURUSAN GIZI
Scientific Treatise, July2014
Rima Rahmawati Putri
The Correlation Of The Energy Intake, Protein And Eating Behavior With
Underweight Nutritional Status Of Students In Junior High School 29
Padang 2014
Vi + 52 Pages, 10Tables, 5 Attachments
ABSTRACT
The immediate cause of malnutrition is food and infectious diseases uffered by
children. Indirect causes is knowledge, food security in family, parenting, health
services and environmental health and eating behavior. The prevalence of
underweight nutritional status of children aged 13-15 nationally based Riskesdas
2010 are 10.1%, 12.8% in West Sumatra. Based on the screening results Padang
City Health Department 2012, the prevalence of underweight nutritional status of
the city of Padang 13.8%, in SMPN 29 prevalence of underweight nutritional
status are 35.8%. The purpose of the study was to determine the relationship of
energy intake, protein intake and eating behavior with underweight nutritional
status in SMP 29 Padang.
This study is an analytical cross-sectional study design. The samples in this study
were collected by simple random sampling, obtained a sample of 74 people. Data
weight and height were measured with a bathroom scale and microtoise, energy
intake and protein intake using the Quantitative Food Frequency Semy format and
eating behavior using a questionnaire. Data were analyzed using univariate and
bivariate by statistical chi-square test with a confidence level of 95%.
The results showed that the prevalence of underweight in the nutritional status of
SMPN 29 Padang was 17.6%, students with less energy intake as much as 27%,
less protein intake as much as 31.1% of students behave and eat less as much as
40.5%. There is a significant association between the intake energy and intake
protein and underweight nutritional status.There was no significant association
between eating behavior and underweight nutritional status.
It is recommended that parents pay more attention to the nutritional status of
children, the intake of the children, students also pay attention to intake, and that
the school provides a healthy school canteen.
Keywords: skinny nutritional status, energy intake, protein intake, eating
behavior.
Bibliography 33 (1973-2013)
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG
JURUSAN GIZI
KaryaTulis Ilmiah, Juli 2014
Rima Rahmawati Putri
Hubungan Asupan Energi, Protein dan Perilaku Makan dengan Status Gizi
Kurus pada Siswa di SMP Negeri 29 Kota Padang Tahun 2014
ABSTRAK
Penyebab langsung kurang gizi adalah makanan dan penyakit infeksi yang
diderita anak. Penyebab tidak langsung adalah pengetahuan, ketahanan pangan di
keluarga, pola pengasuhan anak, pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan
serta perilaku makan. Prevalensi status gizi kurus secara nasional anak umur 13-
15 tahun berdasarkan Riskesdas 2010 yaitu 10,1%, di Sumatera Barat 12,8%.
Berdasarkan hasil skrining Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2012, prevalensi
status gizi kurus di kota Padang 13,8%, sedangkan di SMP N 29 Kota Padang
35,8%. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan asupan energi,
protein dan perilaku makan di SMP Negeri 29 Kota Padang.
Penelitian ini bersifat analitik dengan desain cross sectional study. Sampel dalam
penelitian ini diambil secara simple random sampling, diperoleh sampel sebanyak
74 orang. Data berat badan dan tinggi badan diukur dengan timbangan kamar
mandi dan microtoise, asupan energi menggunakan format Semy Quantitative
Food Frequency dan perilaku makan menggunakan angket. Data dianalisis secara
univariat dan bivariat dengan menggunakan uji statistic chi-square dengan tingkat
kepercayaan 95%.
Hasil penelitian diperoleh bahwa prevalensi status gizi kurus di SMP N 29 Kota
Padang adalah 17,6%, siswa dengan asupan energi kurang sebanyak 27%, asupan
protein kurang sebanyak 31,1% dan siswa berperilaku makan kurang sebanyak
40,5%. Terdapat hubungan yang bermakna antara asupan energi, protein dengan
status gizi kurus. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku makan
dengan status gizi kurus.
Disarankan agar orang tua lebih memperhatikan status gizi anak, asupan anak,
siswa juga memperhatikan asupannya, serta agar pihak sekolah menyediakan
kantin yang sehat disekolah.
Kata kunci : Status gizi kurus, asupan energi, asupan protein, perilaku makan.
Daftar Pustaka 33 (1973-2013)
KATA PENGANTAR
Tuhan Yang Maha Esa, dengan berkat serta Rahmat dan Karunia-Nya, penulisan
Karya Tulis Ilmiah ini dapat diselesaikan oleh penulis walaupun menemui
rangkaian dari proses pendidikan serta menyeluruh di Progran Studi DIII Jurusan
Judul Karya Tulis Ilmiah ini “Hubungan Asupan Energi, Protein Dan
Perilaku Makan Dengan Status Gizi Kurus Pada Siswa Di SMP Negeri 29
Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini penulis menyadari akan keterbatasan
kemampuan yang ada, sehingga penulis merasa masih belum sempurna baik
dalam isi maupun dalam penyajian. Untuk itu penulis selalu terbuka atas kritik
dan saran yang membangun guna penyempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang
sebesar-besarnya atas segala bimbingan, pengarahan dari Ibu Hermita Bus Umar
SKM M. Kes dan Ibu Defriani Dwiyanti S. SiT M. Kes selaku pembimbing
Karya Tulis Ilmiah dan berbagai pihak yang penulis terima, sehingga penulis
Padang.
3. Bapak John Amos SKM M.Kes selaku penguji I yang telah memberi
5. Ibu Dra. Drita Yani selaku Kepala Skolah di SMP Negeri 29 Kota Padang
dan saran akan sangat berarti begi penulis dalam mencapai kesempurnaan Karya
Tulis Ilmiah ini. Penulis berharap semoga Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi
semua pihak.
Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK
KATA PENGANTAR ........................................................................ i
DAFTAR ISI ....................................................................................... iii
DAFTAR TABEL .............................................................................. v
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................... vi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang .............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................... 5
C. Tujuan ............................................................................................. 5
1. Tujuan Umum ............................................................................ 5
2. Tujuan Khusus ........................................................................... 6
D. Manfaat Penelitian.......................................................................... 6
E. Ruang Lingkup Penelitian ............................................................ 7
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1 Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak Umur 5-18 Tahun
Berdasarkan Indeks (WHO 2005) ..................................................... 9
Tabel 8 Hubungan Asupan Energi dengan Status Gizi Kurus pada Siswa di
SMP N 29 Kota Padang Tahun 2014 ................................................. 38
Tabel 9 Hubungan Asupan Protein dengan Status Gizi Kurus pada Siswa di
SMP N 29 Kota Padang Tahun 2014 ................................................. 38
Tabel 10 Hubungan Perilaku Makan dengan Status Gizi Kurus pada Siswa di
SMP N 29 Kota Padang Tahun 2014 ................................................. 39
DAFTAR LAMPIRAN
dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi dibedakan atas status gizi buruk,
kurang, baik dan lebih.1 Gizi kurang secara langsung disebabkan oleh asupan
makanan dan infeksi. Asupan makanan dan infeksi juga disebabkan oleh
anak dan ibu hamil, pelayanan kesehatan. Ketiga faktor ini, juga disebabkan
oleh beberapa faktor, merupakan pokok masalah dari masalah gizi yaitu
dewasa. Remaja pada umumnya dimulai pada usia 10-13 tahun dan berakhir
perubahan yang terjadi pada remaja ini membutuhkan zat gizi secara khusus.4
Saat memasuki usia 10-12 tahun pertumbuhan anak perempuan lebih cepat
usia reproduksi. Sedangkan anak laki-laki baru dapat menuysul setelah dua
tahun kemudian.5 Pertumbuhan pada remaja putri terjadi pada usia 10-11
tahun, dan puncaknya pada usia 12 tahun serta berakhir pada usia 15 tahun.
Pada remaja putra pertumbuhan terjadi pada usia 12-13 tahun dan puncaknya
perkembangan tubuh memerlukan energi dan zat gizi yang lebih banyak seperti
penyesuaian masukan energi dan zat gizi, dan kehamilan, keikutsertaan dalam
dan zat gizi.5 Oleh karena itu, konsumsi merupakan aspek yang perlu
pertumbuhan dan kegiatannya, maka akan terjadi defisiensi yang nantinya akan
yang tidak seimbang. Masalah kekurangan konsumsi energi dan protein terjadi
pada semua kelompok umur, terutama pada anak usia sekolah (6–12 tahun),
usia pra remaja (13–15 tahun), usia remaja (16–18 tahun), dan kelompok ibu
dari angka kecukupan gizi bagi orang Indonesia) adalah sebanyak 40,7%.
dari 80% dari angka kecukupan bagi orang Indonesia) adalah sebanyak 37%.7
kurang gizi adalah makanan dan penyakit infeksi yang diderita anak. Anak
yang makan dengan tingkat tidak cukup baik, maka daya tahan tubuhnya
yang dapat mengurangi nafsu makan dan akhirnya dapat menderita kurang gizi.
Penyebab tidak langsung dari masalah gizi yaitu ketahanan pangan di
bermakna antara asupan energi dengan status gizi anak sekolah berdasarkan
IMT/U. Diperoleh bahwa lebih banyak anak dengan asupan energi kurang
berada pada status gizi kurus dibandingkan dengan anak yang asupan
energinya cukup berada pada status gizi normal. Begitu juga dengan asupan
protein. Anak yang asupan proteinnya kurang cenderung berada pada status
gizi kurus dibandingkan dengan anak yang asupan proteinnya cukup cenderung
status gizi dalam penelitian Pratiwi.10 Anak yang asupan energi dan proteinnya
cukup cenderung memiliki status gizi yang normal. Sedangkan anak yang
mempunyai asupan energi dan protein yang kurang, cenderung memiliki status
gizi kurang.
hubungan yang signifikan antara asupan energi dan protein dengan status gizi.
Anak yang asupan energinya kurang mempunyai peluang 9,4 kali menderita
kurus dibandingkan dengan anak yang asupan energinya cukup. Begitu juga
dengan asupan protein, anak yang asupan proteinnya kurang, memiliki peluang
11,5 kali lipat menderita kurus dibandingkan dengan anak yang asupan
proteinnya cukup.
Perilaku makan merupakan faktor yang mempengaruhi status gizi.
terhadap status gizi. Ini terlihat dari uji statistik didapat bahwa p=0,000. Hasil
melewatkan dua kali waktu makan, dan lebih memilih makan makanan ringan.
Sebagian besar makanan ringan mengandung sedikit kalori dan zat gizi, dan
sengaja tidak makan, sangat membatasi asupan makanan, atau sama sekali
gizi kurang.6
13-15 tahun berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) didapat
bahwa 10,1% anak kurus, yang terdiri dari 2,7% sangat kurus dan 7,4% kurus.
Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat
dan Papua. Prevalensi status gizi kurang (IMT/U) di Sumatera Barat yaitu
sebanyak 12,8%, terdiri dari 4.9% sangat kurus dan 7.9% kurus.7
Kota Padang tahun 2012 dari seluruh puskesmas yang ada terdapat 13,8%
siswa SMP yang berada pada status gizi kurus, terdiri dari 1,2% sangat kurus
dan 12,6% kurus. Dari data skrining tersebut didapat bahwa, Kecamatan
bahwa terdapat 3 SMP yang berada di Nanggalo, yaitu SMPN 29, SMPN 22
dan SMP Pertiwi. Dari ke tiga SMP tersebut didapat bahwa prevalensi gizi
kurus di SMPN 29 yaitu sebanyak 35,8%, SMPN 22 sebanyak 24,7% dan SMP
merupakan SMP yang mengalami masalah gizi kurus paling tinggi dibanding
SMP lainnya.14
Makan Dengan Status Gizi Kurus Pada Siswa Di SMP Negeri 29 Kota
B. Rumusan Masalah
Asupan Energi, Protein Dan Perilaku Makan Dengan Status Gizi Kurus Pada
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Dengan Status Gizi Kurus Pada Siswa Di SMP Negeri 29 Kota Padang
Tahun 2014.
2. Tujuan Khusus
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Ilmiah.
2. Bagi Remaja
terjadi pada remaja saat ini dan dapat memperhatikan status gizinya menjadi
menjaga stats gizi yang baik agar tidak terjadi masalah gizi yang lebih
lanjut.
Penelitian ini dilakukan pada remaja kelas VII dan VIII di SMP Negeri 29
Kota Padang tahun 2014 untuk mengetahui hubungan antara asupan energi,
protein dan perilaku makan dengan status gizi kurus pada remaja dengan
sekunder didapat dari Dinas Kesehatan Kota Padang dan Tata Usaha SMP
Negeri 29 Kota Padang. Dimana variabel yang akan diukur yaitu asupan
energi, asupan protein, perilaku makan dan status gizi, dan kemudian di
variabel tertentu, atau perujudan dari keadaan gizi dalam bentuk variabel
penyerapan zat gizi dan penggunan zat gizi tersebut atau keadaan fisiologik
akibat tersedianya zat gizi dalam seluler tubuh.2 Status gizi merupakan
gizi. Status gizi dibedakan atas status gizi buruk, kurang, baik dan lebih.1
Jadi, status gizi adalah status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan
kelompok umur yaitu 6-12 tahun, 13-15 tahun dan 16-18 tahun. Indikator
status gizi yang digunakan untuk kelompok umur ini didasarkan pada
pengukuran antropometri berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) yang
disajikan dalam Indeks Massa Tubuh menurut umur (IMT/U). Indeks massa
Tabel 1
Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak Umur 5-18 Tahun
Berdasarkan Indeks (WHO 2005)
KATEGORI
AMBANG BATAS
INDEKS STATUS
(Z-SCORE)
GIZI
Sangat Kurus <-3 SD
Indeks Masa Tubuh Kurus -3 SD sampai dengan <-2SD
Menurut Umur Normal -2 SD sampai dengan 1 SD
(IMT/U)
Anak Umur 5 – 18 Gemuk >1 SD sampai dengan 2 SD
Tahun Obesitas >2 SD
a Gizi baik
b Gizi kurang
makanan atau konsumsi energi dan protein kurang selama jangka waktu
tertentu.
c Gizi lebih
lain-lain.
1. Asupan Makanan
gizi baik atau status gizi optimal terjadi apabila tubuh memperoleh cukup
a. Asupan energi
1) Pengertian energi
2) Fungsi energi:
respirasi.
produktivitas kerja Apabila hal ini terjadi pada bayi dan anak-
b. Asupan protein
1) Pengertian protein
merupakan konstituen penting pada semua sel. Jenis zat gizi ini
mengandung protein.15
2) Fungsi protein
sel-sel darah. 22
kuku.22
toksik lain yang datang dari luar dan masuk ke dalam milieu
interiur tubuh. 6
mortalitas.6
2. Perilaku makan
a. Pengertian perilaku
dapat diamati maupun yang tidak dapat diamati, yang berkaitan dengan
1. Pengetahuan
2. Sikap
atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi
3. Tindakan
tindakan perlu faktor lain antara lain adanya fasilitas atau sarana dan
prasarana.
anjuran tiga waktu makan yaitu makan pagi, makan siang dan makan
siang atau makan malam dengan porsi yang lebih besar yang pada
3. Alasan makan
serat.
5. perkiraan kalori yang dikandung makanan yang dimakan
makanan.
Hampir 50% remaja terutama remaja yang lebih tua, tidak sarapan.
secara teratur hanya 60%. Remaja putri malah melewatkan dua kali
waktu makan, dan lebih memilih makan makanan ringan. Sebagian besar
makanan ringan mengandung sedikit kalori dan zat gizi, dan dapat
mengganggu atau menghilangkan nafsu makan.3 Banyak remaja terlalu
sama sekali tidak makan semua jenis makanan. Sebagian remaja putri
Angka kecukupan gizi merupakan suatu kecukupan rata-rata zat gizi setiap
hari bagi setiap orang menurut golongan usia, jenis kelamin, ukuran tubuh dan
Angka kecukupan gizi yang dianjurkan adalah taraf konsumsi zat-zat gizi
kebutuhan hampir semua orang. Angka kecukupan gizi berbeda dengan angka
kebutuhan gizi. Angka kebutuhan gizi adalah banyaknya zat-zat gizi minimal
AKG yang dianjurkan didasarkan pada patokan berat badan untuk masing-
masing kelompok umur, jenis kelamin, aktifitas fisik dan kondisi fisiologis
terdapat berat badan yang berbeda dengan patokan yang digunakan, maka perlu
dilakukan penyesuaian. Bila berat badan jauh lebih kurus dari yang sebenarnya,
1. Kegunaan AKG
rakyat.
tertentu.
Kelompok BB TB Energi Prot Lem Kh VitA VitD VitE VitK VitB1 VitC
umur (kg) (cm) (kkal) (gr) (gr) (gr) (µg) (mg) (mg) (µg) (mg) (mg)
Laki-laki
10-12 tahun 34 142 2100 50 70 290 600 15 11 35 1,1 50
2550 62 85 350 600 15 15 55 1,2 75
13-15 tahun 46 158
16-18 tahun 56 166 2650 62 88 350 600 15 15 55 1,3 90
Perempuan
10-12 tahun 36 145 2000 52 70 270 600 15 11 35 1,0 50
2150 60 70 300 600 15 15 55 1,1 65
13-15 tahun 46 155
16-18 tahun 50 157 2150 58 70 300 600 15 15 55 1,1 75
Sumber : kementerian Kesehatan RI 20132
a. Antropometri
tingkat umur dan tingkat gizi. Secara umum metode ini digunakan untuk
jaringan tubuh seperti lemak, otot, dan jumlah air dalam tubuh.
b. Biokimia
yang digunakan antara lain: darah, urin, tinja dan beberapa jaringan
d. Biofisik
menjadi:2
berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga dan individu. Survei ini
periode 24 jam yang lalu. Dalam metode ini, responden, ibu atau
dimulai sejak ia bangun pagi kemarin sampai dia istirahat tidur malam
harinya, atau dapat juga dimulai dari waktu saat dilakukan wawancara
makan dan minum setiap kali sebelum makan dalam ukuran rumah
tangga atau menimbang dalam ukuran berat dalam periode tertentu (2-
makanan tersebut.
b. Statistik vital
penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi. Pada
yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah,
E. Remaja
Masa remaja adalah suatu tahap kehidupan yang bersifat peralihan dan
tidak mantap. Disamping itu, masa remaja adalah masa yang rawan oleh
amat baik untuk mengembangkan segala potensi positif yang mereka miliki
seperti bakat, kemampuan dan minat.30 Remaja merupakan suatu tahap antar
masa kanak-kanak dan masa dewasa. Masa remaja tergolong masa transisi
(trantition stage) yaitu masa peralihan dari masa ana-anak menuju masa
dewasa muda. Tanda yang spesifik dalam keidupan remaja ialah adanya
Dilihat dari siklus kehidupan, masa remaja merupakan masa yang paling
sulit untuk dilalui oleh individu. Masa ini dapat dikatakan sebagai masa yang
ini dikarenakan pada masa ini terjadi begitu banyak perubahan dalam diri
individu baik itu perubahan fisik maupun psikologis. Perubahan dari ciri
anak muda yang berusia 15-24 tahun. Hal ini kemudian disatukan dalam
batasan kaum muda (young people) yang mencakup usia 10 sampai 24 tahun.32
Pertama, remaja memerlukan zat gizi yang lebih tinggi karena peningkatan
khusus, yaitu remaja yang aktif dalam kegiatan olahraga, menderita penyakit
Secara umum masa remaja dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sebagai
berikut: 33
dan berusaha mengembangkan diri sebagai individu yang unik dan tidak
tergantung pada orang tua. Fokus dari tahap ini adalah penerimaan
terhadap bentuk dan kondisi fisik serta adanya konformitas yang kuat
baru. Teman sebaya masih memiliki peran yang penting, namun individu
sudah lebih mampu mengarahkan diri sendiri. Pada masa ini remaja
mulai mengembangkan kematangan tingkah laku, belajar mengendalikan
dengan tujuan vokasional yang ingin dicapai. Selain itu penerimaan dari
yang kuat untuk menjadi matang dan diterima dalam kelompok teman
sebaya dan orang dewasa, juga menjadi ciri dari tahap ini.
F. Kerangka Konsep
Asupan
Energi
Asupan
Protein Status Gizi
Kurus
Perilaku
makan
G. Hipotesis
1. Ada hubungan antara asupan energi denganstatus gizi kurus pada siswa
2. Ada hubungan antara asupan protein dengan status gizi kurus pada siswa
3. Ada hubungan antara perilaku makan dengan status gizi kurus pada siswa di
A. Desain Penelitian
bersamaan.
1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah semua murid kelas VII dan VIII
2. Sampel
sebagai berikut :
(Z1-α/2)2 x P(1-P)N
n=
d2 (N-1) + (Z1-α/2)2 x P(1-P)
Keterangan:
n = Jumlah sampel
N =Populasi
(Z1-α/2)2 = Nilai Z pada tingkat kepercayaan tertentu (1,96)
(1-P) = proporsi suatu kejadian untuk tidak terjadi
P = Proporsi (35,8 % )
d = Presisi (10%)
Dari perhitungan di atas didapat jumlah sampel yaitu sebanyak 74 orang.
1. Data Primer
Data primer dari penelitian ini meliputi asupan energi, asupan protein,
berat badan, tinggi badan dan perilaku makan. Pengumpulan data dilakukan
oleh peneliti dan dibantu oleh 2 orang mahasiswa gizi Poltekkes Kemenkes
berat badan dan tinggi badan. Data asupan energi dan protein dilakukan
secara berurutan.
yang diinginkan.
2. Data Sekunder
Data sekunder didapat dari Dinas Kesehatan Kota Padang meliputi data
skrining status gizi murid SMP se Kota Padang dan Tata Usaha SMP Negeri
1. Pengolahan Data
untuk asupan energi dan protein. Semua data digabung dalam program
a Editing
jawab responden tentang pengetahuan gizi siswa. Tujuan dari editing ini
adalah untuk melengkapi data yang masih kurang maupun memeriksa
b Coding
analisis dan mempercepat pemasukan data. Data yang diberi kode adalah
sebagai berikut:
1. Kurus :0
2. Tidak kurus :1
2. Baik : ≥ median
c Entry
memasukkan kode jawaban pada program data. Dalam proses entry data
variabel.
2. Analisis Data
Data yang sudah diolah dianalisis secara univariat dan bivariat dengan
gizi siswa, asupan energi dan protein siswa, perilaku makan di SMP Negeri
29 Kota Padang.
energi dan protein serta perilaku makan dengan status gizi kurus pada siswa
Uji yang dilakukan dalam analisa bivariat ini adalah uji chi-square.
Hipotesis akan diuji dengan batas kepercayaan atau confidence limit 95%.
A. Gambaran Umum
satu SMP yang berada dibawah dinas pendidikan kota Padang. SMP N 29
SMP Negeri 29 Kota Padang ini sebanyak 817 orang. Kelas satu terdiri
dari 218 orang orang, kelas dua 322 orang dan kelas 277 orang.
mushalla, 1 kantin yang berada di dalam sekolah serta warung yang berada
di luar sekolah.
saat jam istirahat biasanya siswa siswi di SMP N 29 Kota Padang membeli
makan makanan yang dijual di warung tersebut. Hampir semua siswa yang
dikumpulkan.
2. Gambaran Umum Sampel
a. Jenis kelamin
Tabel 3
Distribusi Siswa Berdasarkan Jenis Kelamin di SMP N 29
Kota Padang Tahun 2014
orang (62,2%).
B. Hasil Penelitian
1. Analisis Univariat
Tabel 4
Distribusi Siswa Berdasarkan Status Gizi di SMP N 29 Kota
Padang Tahun 2014
Tabel 5
Distribusi Siswa Berdasarkan Asupan Energi di SMP N 29
Kota Padang Tahun 2014
Asupan energi n %
Kurang 20 27
Baik 54 73
Total 74 100
Tabel 6
Distribusi Siswa Berdasarkan Asupan Protein di SMP N 29
Kota Padang Tahun 2014
Asupan Protein n %
Kurang 23 31,1
Baik 51 68,9
Total 74 100
Tabel 7
Distribusi Siswa Berdasarkan Perilaku Makan di SMP N 29
Kota Padang Tahun 2014
Perilaku Makan n %
Kurang 30 40,5
Baik 44 59,5
Total 74 100
2. Analisis Bivariat
atau P value ≤ 0,05 dan dikatakan tidak bermakna jika p Value > α atau >
0,05.
siswa di SMP N 29 Kota Padang tahun 2014 dapat dilihat pada tabel
8.
Tabel 8
Hubungan Asupan Energi dengan Status Gizi Kurus pada
Siswa di SMP N 29 Kota Padang Tahun 2014
dengan siswa yang asupan energi baik berada pada statas gizi kurus
(11,1%). Dari uji statistik didapat p value yaitu 0,04. Ini berarti bahwa
siswa di SMP N 29 Kota Padang tahun 2014 dapat dilihat pada tabel 9
ini.
Tabel 9
Hubungan Asupan Protein dengan Status Gizi Kurus pada
Siswa di SMP N 29 Kota Padang Tahun 2014
makan dengan status gizi kurus pada siswa di SMP N 29 Kota Padang
C. Pembahasan
1. Hasil Univariat
2014
kurus dan tidak kurus. Siswa dikatakan kurus jika didapat Z-Score <-
3 SD - <-2 SD dan tidak kurus jika didapat Z-Score -2SD - >2 SD.16
bahawa 10,1% anak berada pada status gizi kurus. Di Sumatera Barat
yaitu sebanyak 12,8%. Jika dilihat di Kota Padang yang didapat dari
Padang tahun 2012 dari seluruh puskesmas yang ada didapat bahwa
angka status gizi kurus pada anak SMP di Kota Padang lebih tinggi
sekolah khususnya anak SMP. Masalah status gizi kurus ini bisa
disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor langsung
gizi kurus adalah asupan dan kejadian infeksi sedangkan faktor tidak
2014
AKG 2012. AKG 2012 untuk remaja umur 13-15 tahun adalah 2550
kkal untuk laki-laki dan 2150 kkal untuk perempuan. Setelah didapat
kurang (27%).
berat badan dan kerusakan jaringan tubuh.17 Hal ini dikarenakan oleh
2014
AKG 2012. AKG Protein 2012 untuk remaja umur 13-15 tahun adalah
protein laki-laki adalah 53,04 gr. Dari hasil penelitian didapat bahwa
protein kurang pada remaja umur 13-15 tahun <dari 80% AKG yaitu
gizi kurang. Jika asupan protein terus menerus kurang, maka protein
pertumbuhan.21
2014
rata pengetahuan siswa tentang gizi telah baik, umumnya siswa telah
malah melewatkan dua kali waktu makan dan lebih memilih makan
kalori dan zat gizi, dan dapat mengganggu atau menghilangkan nafsu
makan. 3,6
2. Hasil Bivariat
kurus pada siswa di SMP N 29 Kota Padang tahun 2014 lebih banyak
siswa yang asupan energinya kurang berada pada status gizi kurus
pada statas gizi kurus (11,1%). Dapat disimpulkan bahwa anak yang
bermakna antara asupan energi dengan status gizi kurus pada siswa di
yang bermakna antara asupan energi dengan status gizi anak sekolah
energi kurang berada pada status gizi kurus dibandingkan dengan anak
memiliki status gizi normal dan anak yang asupan energinya kurang
energi dengan status gizi. Anak yang asupan energi nya kurang
pada status gizi khususnya berat badan yang merupakan salah satu
kurang.20
bermakna antara asupan protein dengan status gizi kurus pada siswa di
yang bermakna antara asupan protein dengan status gizi anak sekolah
anak yang asupan proteinnya cukup berada pada status gizi normal.9
Protein termasuk zat gizi yang sangat penting bagi tubuh karena
pertumbuhan. Jika hal ini terjadi pada anak bisa mengakibatkan anak
yang bermakna antara perilaku makan dengan status gizi kurus pada
siswa di SMP N 29 Kota Padang tahun 2014. Hal penelitian ini tidak
makan terhadap status gizi, terlihat dari hasil uji statistik didapat
oleh asupan dan kejadian infeksi. Perilaku makan siswa bisa dikatakan
tersebut.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
5. Terdapat hubungan yang bermakna antara asupan energi dengan status gizi
kurus (p<0,05).
6. Terdapat hubungan yang bermakna antara asupan protein dengan status gizi
kurus (p<0,05).
1. Sekolah
menjual makanan porsi yang tinggi zat gizi dan mengurangi penjualan
makan-makanan ringan.
Agar orang tua lebih memperhatikan asupan anaknya supaya zat gizi
3. Siswa
6. Paath, Erna Francin, dkk. Gizi dalam Kesehatan Reroduksi. Jakarta: EGC;
2005
10. Pratiwi, Yoni. Hubungan Asupan Energi dan Protein dengan Status Gizi
Anak Asuh di Panti Asuhan Aisyiyah Cab. Nangglo Padang [Karya Tulis
Ilmiah . Padang: Politeknik Kesehatan Kemenkes Padang; 2012
11. Gusliandra, Ardina. Faktor resiko status gizi kurus pada anak usia 6-12
tahun di Kelurahan Korong Gadang Kecamatan Kuranji Padang [Karya
Tulis Ilmiah]. Padang: Politeknik Kesehatan Kemenkes Padang; 2013
12. Diana. Pengaruh Citra Tubuh Terhadap Perilaku Makan Dan Status Gizi
Remaja Putri Di SMAN I Medan [Tesis]. Medan; Program Studi S2 Ilmu
Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Sumatera Utara; 2011
13. Panjaitan, Wanri E.S. Hubungan Persepsi Body Image, Perilaku Makan
Dan Status Gizi Pada Remaja [Skripsi]. Jakarta: Program Studi Ilmu Gizi
Fakultas Ilmu – Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul; 2012
14. Dinas Kesehatan Kota Padang. Rekap Hasil Skreening kesehatan Murid
SMP Puskesmas se Kota Padang; 2012
15. Beck, Mary E. Ilmu gizi dan diet hubungannya dengan penyakit untuk
perawat dan dokter. Yogyakarta: CV. Andi Offset; 2011
17. Cakrawati, Dewi dan Mustika NH. Bahan Pangan Gizi dan Kesehatan.
Bandung: Alfabeta; 2012
18. Mitayani dan Wiwi Sartika. Buku saku ilmu gizi. jakarta: CV. Trans Info
Media; 2010
19. Gibney, Michael J. dkk. Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC; 2009
20. Kartasapoetra, dan Marsetyo. Ilmu Gizi (Korelasi Gizi, Kesehatan, dan
Produktivitas Kerja). Jakarta: Rineka Cipta; 2010
25. Levi dalam Diana. Pengaruh Citra Tubuh Terhadap Perilaku Makan Dan
Status Gizi Remaja Putri Di SMAN I Medan [Tesis]. Medan; Program
Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara; 2011
26. Ikatan Dokter Anak Indonesia [Diakses 26 Januari pukul 09.15 WIB]
Tersedia dari: URL:http://idai.or.id/public-articles/seputar-kesehatan-
anak/nutrisi-pada-remaja.html
27. Williams, Lippincott dan Wilkins. Ilmu Gizi Menjadi Sangat Mudah.
Jakarta: EGC; 2011
28. Muhilal, dkk. 1994. Dalam Aritonang, Irianton. Kebiasaan Makan Gizi
Seimbang. Yogyakarta: Leutika dan CEBios; 2011
32. Proverawati, Atikah dan Erna Kusumawati. Ilmu Gizi untuk Keperawatan
dan Gizi Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika; 2011
Nama :
Umur :
Energi, Protein Dan Perilaku Makan Dengan Status Gizi Kurus Pada Siswa Di
SMP Negeri 29 Kota Padang Tahun 2014” oleh saudari Rima Rahmawati Putri
( )
Lampiran B
Kode
Sampel
A. Identitas Responden
Nama :
Berat Badan :
Tinggi Badan :
Jenis kelamin :
B. SQ-FFQ
C. Perilaku Makan
(3)
(2)
(1)
d. Tidak tahu
(0)
d.
5. Menurut adik, apa dampak jika kita makan terlalu sedikit?
6.
Sangat Tidak
Setuju
Pernyataan setuju setuju
(3)
(4) (2)
Makan makanan seperti nasi, ikan, tahu, sayur dan buah yang
cukup menyebabkan badan sehat
a. Ya (0)
b. Tidak (1)
a. Ya (0)
b. Tidak (1)
9. Apakah dalam sehari-hari, adik makan makanan yang terdiri
a. Ya (0)
b. Tidak (1)
a. Ya (0)
b. Tidak (1)
a. Ya
b. Tidak
Lampiran C
MASTER TABEL
Lampiran D
Statistics
Jenis
Kelamin
N Valid 74
Missing 0
Jenis Kelamin
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
B. Analisis univariat
Statistics
Konsumsi
Konsumsi PROTEIN
status gizi Energi 80% 80% kat med
N Valid 74 74 74 74
Missing 0 0 0 0
Frequency Table
status gizi
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
C. Analisis Bivariat
Crosstabs
Cases
Konsumsi Energi
74 100,0% 0 ,0% 74 100,0%
80% * status gizi
Konsumsi Energi 80% * status gizi Crosstabulation
baik Count 6 48 54
% within Konsumsi
11,1% 88,9% 100,0%
Energi 80%
Total Count 13 61 74
% within Konsumsi
17,6% 82,4% 100,0%
Energi 80%
Chi-Square Tests
Continuity
4,220 1 ,040
Correction(a)
Linear-by-Linear
5,674 1 ,017
Association
N of Valid Cases 74
b 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3,51.
Crosstabs
Cases
Konsumsi PROTEIN
74 100,0% 0 ,0% 74 100,0%
80% * status gizi
baik Count 5 46 51
% within Konsumsi
9,8% 90,2% 100,0%
PROTEIN 80%
Total Count 13 61 74
% within Konsumsi
17,6% 82,4% 100,0%
PROTEIN 80%
Chi-Square Tests
Continuity
5,214 1 ,022
Correction(a)
Linear-by-Linear
6,737 1 ,009
Association
N of Valid Cases 74
b 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4,04.
Crosstabs
Cases
baik Count 9 35 44
Total Count 13 61 74
Chi-Square Tests
Continuity
,230 1 ,632
Correction(a)
Linear-by-Linear
,616 1 ,432
Association
N of Valid Cases 74
b 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5,27.