Location via proxy:   [ UP ]  
[Report a bug]   [Manage cookies]                

Laporan Hasil Pengkajian

Unduh sebagai docx, pdf, atau txt
Unduh sebagai docx, pdf, atau txt
Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN HASIL PENGKAJIAN

ASUHAN KEPERAWATAN MANAJEMEN PELAYANAN


DI WISMA ABIYASA
RSJ Prof.Dr. SOEROYO MAGELANG

Disusun Oleh :
 Ade satria pratama
 Elfhan teguh
 Ade riski
 Ike suryani
 Dwi rafica ayu
 Lia
 Handika

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
TRI MANDIRI SAKTI
BENGKULU
2016
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mempertahankan kesehatan telah menjadi sebuah industri besar yang
melibatkan berbagai aspek upaya kesehatan. Pelayanan kesehatan kemudian
menjadi hak yang paling mendasar bagi semua orang dan memberikan pelayanan
kesehatan yang memadai akan membutuhkan upaya perbaikan menyeluruh sistem
yang ada. Pelayanan kesehatan yang memadai ditentukan sebagian besar oleh
gambaran pelayanan keperawatan yang terdapat di dalamnya.
Era globalisasi dan perkembangan ilmu dan teknologi kesehatan
menuntut perawat, sebagai suatu profesi, memberi pelayanan kesehatan yang
optimal. Praktek keperawatan ditentukan dalam standar organisasi profesi dan
system pengaturan serta pengendaliannya melalui perundang-undangan
keperawatan (Nursing Act), dimanapun perawat itu bekerja (PPNI, 2000).
Keperawatan hubungannya sangat banyak keterlibatan dengan segmen
manusia dan kemanusiaan, oleh karena berbagai masalah kesehatan actual dan
potensial. Keperawatan memandang manusia secara utuh dan unik sehingga
praktek keperawatan membutuhkan penerapan ilmu Pengetahuan dan
keterampilan yang kompleks sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan objektif
pasien/klien. Keunikan hubungan ners dan klien harus dipelihara interaksi
dinamikanya dan kontuinitasnya. Kira-kira awal era 2000-an, dunia keperawatan
Indonesia mulai dilanda demam trend baru, yaitu model praktik keperawatan
profesional atau disingkat MPKP.
MPKP adalah suatu sistem (struktur, proses dan nilai-nilai profesional)
yang memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan
keperawatan, termasuk lingkungan untuk menopang pemberian asuhan tersebut.
Dengan pengembangan MPKP, diharapkan nilai profesional dapat diaplikasikan
secara nyata, sehingga meningkatkan mutu asuhan dan pelayanan keperawatan.
Mengingat keterbatasan jumlah dan pendidikan sumber daya perawat
praktik keperawatan profesional tidak bisa seperti yang dilakukan di negara maju
maka yang dilakukan adalah modifikasi keperawatan primer. Penetapan jumlah
tenaga keperawatan didasarkan jumlah klien/pasien dan derajat ketergantungan
klien. Jenis tenaga adalah perawat primer (PP) yang lulusan S1 keperawatan,
perawat asosiet (PA) lulusan D3 keperawatan, serta SPK. Tenaga lain adalah
pembantu keperawatan. Mereka berada dalam satuan tim yang dibimbing dan
diarahkan oleh Clinical Care Manager (CCM). Seperti kita ketahui bahwa dalam
pendekatan MPKP, ada management approach (pendekatan manajerial, yang
menjadi area kepala ruang) dan care delivery approach (pendekatan asuhan
keperawatan, yang menjadi area ketua tim) sehingga hal ini dapat mengacu pada
pelayanan keperawatan profesional yang mewujudkan dampak positif yang
memungkinkan pemberian asuhan keperawatan klien secara berkesinambungan
dan dapat dipertanggunggugatkan oleh perawat primer.
Manajemen adalah proses untuk melaksanakan pekerjaan melalui upaya
orang lain. Menurut P. Siagian, manajemen berfungsi untuk melakukan semua
kegiatan yang perlu dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan dalam batas –
batas yang telah ditentukan pada tingkat administrasi. Sedangkan Liang Lie
mengatakan bahwa manajemen adalah suatu ilmu dan seni perencanaan,
pengarahan, pengorganisasian dan pengontrol dari benda dan manusia untuk
mencapai tujuan yang ditentukan sebelumnya.
Manajemen keperawatan adalah proses pelaksanaan pelayanan
keperawatan melalui upaya staf keperawatan untuk memberikan asuhan
keperawatan, pengobatan dan rasa aman kepada pasien, keluarga dan masyarakat
(Gillies, 1989). Kita ketahui disini bahwa manajemen keperawatan adalah suatu
tugas khusus yang harus dilaksanakan oleh pengelola keperawatan untuk
merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan serta mengawasi sumber –
sumber yang ada, baik sumber daya maupun dana sehingga dapat memberikan
pelayanan keperawatan yang efektif baik kepada pasien, keluarga dan masyrakat.
Program ilmu keperawatan pada stase manajemen keperawatan ini
merupakan suatu kegiatan belajar yang memberikan kesempatan kepada
mahasiswa untuk dapat mengaplikasikan konsep atau teori yang telah didapat
dalam pendidikan formal dalam kenyataan di lapangan untuk mengelola suatu
sistem pelayanan keperawatan maupun asuhan keperawatan.berdasarkan latar
belakang di atas maka mahasiswa melakukan praktek manajemen keperawatan di
bangsal P15 RSJ Prof. Dr. Soeroyo Magelang untuk mendapatkan pengalaman
dalam mengidentifikasi masalah, menganalisa, dan merumuskan masalah
sehingga dapat dirumuskan alternatif pemecahan masalah dan mengelola
bersama-sama pelayanan keperawatan maupun dalam memberikan asuhan
keperawatan kepada klien melalui tahapan pengkajian sampai dengan evaluasi.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukannya praktek manajemen keperawatan selama 4 minggu,
mahasiswa dapat melakukan pengelolaan pelayanan keperawatan berdasarkan
tahap-tahap penyelesaian masalah (problem solving cycle) secara teknis
operasional
2. Tujuan Khusus
Setelah melakukan praktek manajemen keperawatan, mahasiswa dapat :
a. Melakukan pengkajian tentang keadaan ruangan perawatan dengan metode
MPKP untuk menemukan masalah-masalah yang belum teratasi.
b. Mengidentifikasi masalah keperawatan yang terkait dengan pelayanan
keperawatan maupun asuhan keperawatan dengan metode MPKP.
c. Menentukan prioritas masalah yang terkait dengan pelayanan keperawatan
maupun asuhan keperawatan dengan metode MPKP.
d. Menyusun perencanaan untuk menyelesaikan masalah yang ditemukan
berdasarkan prioritas yang telah ditetapkan.
e. Melakukan implementasi berdasarkan rencana kegiatan yang disusun untuk
menyelesaikan masalah yang ditemukan.
f. Melakukan evaluasi terhadap implementasi yang telah dilakukan.
g. Menyusun rencana tindak lanjut.

C. Manfaat
1. Mahasiswa
a. Mahasiswa dapat memperoleh pengalaman dengan menerapkan teori
manajemen keperawatan secara langsung pada tatanan unit pelayanan.
b. Dapat memberikan kontribusi secara nyata, dalam pembentukan karakter dan
kepribadian.
2. Rumah Sakit
Memberikan kontribusi terhadap pengembangan mutu pelayanan dan mutu asuhan
keperawatan
3. Bangsal perawatan Wisma Abiyasa
a. Sebagai wacana baru dalam pengembangan asuhan keperawatan bagi pegawai
atau staff di bangsal Wisma Abiyasa
b. Membantu dalam proses pencapaian model MPKP

BAB II
GAMBARAN LAHAN PRAKTIK

I. PROFIL RSJ Prof Dr. SOEROYO MAGELANG


A. Sejarah berdirinya RSJP Prof Dr. Soeroyo Magelang
Pada tahun 1916, Scholtens merencanakan membangun
”Krankzinnigengesticht” (Rumah Sakit Jiwa) di Jawa tengah dengan kapasitas
1400 tempat tidur. Magelang ditetapkan sebagai lokasi oleh Pemerintah Belanda.
Rumah Sakit disebut sebagai ”krankzinnigengesticht Kramat”, sesudah
kemerdekaan, namanya menjadi ”Rumah Sakit Jiwa Magelang”.
Dalam perkembangannya Rumah Sakit Jiwa Magelang menjadi Rumah
Sakit Vertikal milik Departemen Kesehatan sesuai dengan SK Menkes RI Nomor
: 135/MenKes/SK/IV/1978 RS. Jiwa Magelang adalah Rumah sakit jiwa kelas A
sebagai Rumah Sakit Jiwa Pendidikan. Keppres No.38/1991 tentang Unit
Swadana, rumah sakit menjadi unit pelayanan yang mampu bergerak cepat dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan menggunakan dana
operasional yang didapat dari pendapatannya.
Rumah sakit Jiwa Magelang dengan SK Menteri Kesehatan ditunjuk
sebagai Instansi Pengguna PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) guna untuk
memperlancar tugas dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Menjadi Instansi Pemerintah dibawah Dep.Kes.RI dengan menerapkan Pola
Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPK BLU) berdasarkan
keputusan Menteri Keuangan No.278/KMK.05/2007 tanggal 21 Juni 2007 dan
keputusan Menteri Kesehatan RI No.756/Men.Kes/SK/VI/2007 tanggal 26 juni
2007.
Kapasitas tempat tidur saat ini 800 tempat tidur dengan jumlah bangunan
2,7 Ha terdiri dari bangsal Rawat inap 26 unit, NAPZA 1 unit, Rawat Jalan dan
IGD masing – masing 1 unit. Rumah Sakit Prof.dr.Soeroyo Magelang atau
disingkat RSSM sebagai core bisnisnya jiwa dengan ditunjang pelayanan umum.

B. Visi RSJP Prof Dr. Soeroyo Magelang


Visi RSSM adalah menjadi Rumah Sakit yang mandiri dalam pelayanan
kesehatan jiwa yang komprehensif untuk kesejahteraan bersama.

C. Misi RSJP Prof Dr. Soeroyo Magelang


Misi yang diemban oleh RSSM sesuai dengan program pemerintah menuju
Indonesia sehat 2010 baik secara fisik dan jiwa adalah:
1. Melaksanakan pelayanan kesehatan jiwa prima
2. Melaksanakan pelayanan ketergantungan NAPZA Prima
3. Melaksanakan pelayanan umum prima sebagai penunjang pelayanan
Kesehatan jiwa
4. Melaksanakan pelayanan pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan serta
melakukan penelitian di bidang kesehatan.
D. Motto
Sejahtera untuk semua

E. Gambaran umum RSJP Prof Dr. Soeroyo Magelang


1. Lokasi
a. Rumah sakit JIwa Prof. Dr. Soeroyo Magelang terletak di Kelurahan Kramat
Utara, Magelang Selatan Kabuoaten Magelang, tepatnya jalan A Yani No 169
Magelang
b. Luas tanah : 409.450 m2
c. Luas bangunan : 27.724 m2
d. Bangsal rawat inap : 26 unit
e. Instalasi NAPZA : 1 unit
f. Instalasi rawat jalan : 1 unit
g. IGD : 1 unit

2. Tingkat Hunian
Berdasarkan data yang diperoleh dari rekam medik, menunjukkan bahwa RSSM
memiliki jumlah tempat tidur sebanyak 800 TT.
3. Penghitungan BOR
a. BOR tahun 2005 rata-rata 62.22% (standart 70%-80%) berarti termasuk
dalam kategori kurang efisien
b. BOR tahun 2006 rata-rata 82.45% (standart 70%-80%) berarti termasuk
dalam kategori efisien
c. BOR tahun 2007 rata-rata 80% (standart 70%-80%) berarti termasuk dalam
kategori efisien
4. Jenis layanan
Pelayanan medis di Rumah Sakit Jiwa Prof.dr. Soeroyo Magelang (RSSM) di bagi
menjadi beberapa sub pelayanan, yaitu :
a. Pelayanan medis :
1) Rawat Jalan, yang meliputi :
a) Poliklinik Umum
b) Poliklinik Spesialis, terbagi menjadi :
 Spesialis Jiwa
 Spesialis Anak
 Spesialis Gigi
 Spesialis Obsgin
 Spesialis Saraf
 Spesialis Penyakit Dalam
 Spesialis bedah
c) Poliklinik tumbuh kembang anak
d) Poliklinik Napza
e) Poliklinik Psikologi
f) Instalasi Gawat Darurat
g) Poliklinik Psikologi
2) Rawat inap jiwa dan umum

b. Pelayanan penunjang
Pelayanan penunjang di Rumah Sakit Jiwa Prof.dr. Soeroyo Magelang di bagi
menjadi beberapa sub bagian pelayanan, yaitu sebagai berikut : Laboratorium
Patologi Klinik, Elektromedik / Fisioterapi, Rontgen, Farmasi.
c. Instalasi Sistem Informasi
Terdiri dari tiga sub bagian, yakni: Sub bagian Perangkat Keras (Hardware), Sub
bagian Perangkat Lunak (Software), Sub bagian Litbang
5. Tenaga
a. Dokter spesialis yang terdiri dari :
1) Spesialis kesehatan jiwa : 17 orang
2) Spesialis syaraf : 2 orang
3) Spesialis anestesiologi : 2 orang
4) Spesialis radiologi : 1 orang
5) Spesialis bedah : 2 orang
6) Spesialis obgin : 2 orang
7) Rehabilitasi medik : 1 orang
b. Dokter umum 12 orang
c. Dokter gigi 3 orang
d. Psikologi 6 orang
e. Perawat 393 orang
f. Paramedis dan non perawatan
8) Pekerja sosial 7 orang
9) Fisioterapis 3 orang
10) Ahli madya radiologi 3 orang
g. Administrasi 259 orang
h. Apoteker 4 orang
II. PROFIL WISMA IRAWAN

A. Sejarah berdirinya Wisma Abiyasa

Latar belakang berdirinya Wisma abiyasa berawal dari peningkatan jumlah


rawat inap bangsal pria yang melebihi kapasitas, maka untuk menyelesaikan
masalah tersebut maka didirikan bangsal wisma abiyasa yang berdiri secara resmi
pada tanggal 1 Agustus 2007. Gedung wisma abiyasa dulunya adalah gedung
bekas rehabilitasi yang tidak terpakai lagi dan nama abiyasa diambil dari nama
salah satu tokoh pewayangan yang disosialisasikan sebagai nama bangsal sejak
Agustus 2009.
B. Lokasi Wisma abiyasa

Batas-batas bangsal wisma Irawan :


Sebelah utara : Ruang rehabilitasi kerja pria dan P16
Sebelah selatan : wisma gatot kaca
Sebaleh barat : Lapangan bola
Sebelah timur : kebun
Bentuk bangunan bangsal lurus memanjang dengan lebar 6 meter, panjang 45
meter, yang terdiri dari 6 ruangan yaitu: gudang, kamar mandi, ruang kerja
perawat, ruang makan pasien, ruang tempat tidur pasien, musolah. Bangsal
merupakan potensi yang sangat besar untuk dijadikan MPKP, ditinjau dari
lingkungan bangsal Wisma abiyasa mempunyai letak yang cukup nyaman jauh
dari kebisingan

C. Visi Wisma abiyasa

Menggunakan pendekatan MPKP dalam memberikan asuhan keperawatan pada


klien gangguan jiwa sehingga menjadi individu yang produktif dan mandiri sesuai
kemampuan yang dimiliki.

D. Misi Wisma abiyasa

a. Mendorong klien untuk berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pemenuhan


hidup sehari-hari

b. Melibatkan peran serta keluarga dalam memberikan asuhan keperawatan

c. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya dalam bidang


keperawatan jiwa
III. MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL JIWA DI
RSJ Prof. Dr. SOEROYO MAGELANG.
Pelayanan keperawatan adalah pelayanan yang dilakukan oleh banyak
orang sehingga perlu menerapkan manajemen, yaitu dalam bentuk manajemen
keperawatan. Manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui
anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan, pengobatan dan bantuan
terhadap para pasien (Gillies, 1989). Pelayanan prima keperawatan dikembangkan
dalam bentuk model praktek keperawatan profesional (MPKP), yang pada
awalnya dikembangkan oleh Sudarsono (2000) di Rumah Sakit
Ciptomangunkusumo dan beberapa rumah sakit umum lain.
Model praktek keperawatan mensyaratkan pendekatan manajemen
(management approach) sebagai pilar praktek professional yang pertama. Oleh
karena itu proses manajemen harus dilaksanakan dengan disiplin untuk menjamin
pelayanan yang diberikan kepada pasien atau keluarga merupakan praktek yang
professional.
Tujuan pembentukan MPKP Jiwa meliputi: menyediakan pelayanan dan
asuhan keperawatan yang berkualitas dan profesional, memberikan pelayanan dan
asuhan keperawatan yang berkesinambungan dalam konteks keluarga,
memberikan pelayanan kesehatan jiwa secara tim (perawat, dokter, psikolog),
sebagai model yang dapat diunggulkan bagi rumah sakit jiwa dan unit
keperawatan jiwa di dalam maupun di luar negeri, dan sebagai tempat belajar bagi
perawat yang akan mengambil spesialis keperawatan jiwa. Untuk mencapai tujuan
maka pengembangan di ruang MPKP pendekatan manajemen didasarkan pada
empat pilar profesionalisme pelayanan keperawatan yaitu:

A. Management approach :

1. Perencanaan (planning) (modul IA)


Perencanaan adalah keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara
matang hal-hal yang akan dikerjakan di masa mendatang dalam rangka
pencapaian tujuan yang telah ditetapkan (Siagian, 1990).
Jenis-jenis perencanaan terdiri dari rencana jangka panjang, rencana jangka
menengah dan rencana jangka pendek. Perencanaan jangka panjang disebut juga
perencaaan strategis yang disusun untuk 3 sampai 10 tahun. Perencanaan jangka
menengah dibuat dan berlaku sampai 5 tahun. Sedangkan perencanaan jangka
pendek dibuat satu jam sampai dengan satu tahun. Hirarki dalam perencanaan
terdiri dari perumusan visi, misi, filosofi, peraturan, kebijakan dan prosedur
(Marquis & Houston, 1998).
Dalam perencanaan, yang menjadi fokus adalah pada asuhan keperawatan.
Untuk hal ini maka dibagi atau telah dirumuskan rincian tugas (job description)
yang harus dimiliki masing-masing orang adalah sebagai berikut :
a. Koordinator atau kepala ruang :
 Menyusun visi, misi dan filosofi ruangan
 Menyusun rencana jangka pendek : harian, bulanan dan tahunan
 Bekerja sama dengan unit lain yg terkait seperti UPI, UGD dan sebagainya
b. Ketua tim (Perawat Primer / PN)
 Menyusun rencana jangka pendek (rencana harian dan rencana bulanan)
c. Perawat pelaksana (Perawat Asosiet/PA)
 Menyusun rencana jangka pendek (rencana harian)

Anda mungkin juga menyukai